Pesan WHO kepada Kegiatan Masyarakat Kembali Sama Seperti Sebelum Pandemi

WHO atau Badan Kesehatan Dunia meninjau pergerakan kegiatan masyarakat di Bali dan Jawa. Pada minggu ini, WHO meninjau bahwa terjadi peningkatan kegiatan masyarakat ke sektor pusat pembelanjaan dan wisata yang sudah situasi yang sama seperti sebelum pandemi pada tanggal 3-6 Januari 2020.

Peningkatan kegiatan yang paling terlihat di sektor perbelanjaan dan rekreasi di empat provinsi di Pulau Jawa.

“Peningkatan mobilitas paling mencolok terlihat sektor perbelanjaan dan rekreasi, khususnya di Banten,  Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, di mana level mobilitas prapandemi telah mencapai puncaknya pada 27 Agustus 2021,” tulis WHO.

Bila ditinjau berdasarkan data Google Mobility Reports per 18 September 2021 terjadi kenaikan kegiatan masyarakat Jawa Barat dari rumah ke toko perlengkapan sehari-hari, pasar, dan farmasi sebesar 26 persen. Hal yang sama juga terjadi di Jawa Tengah sebesar 24 persen, Jawa Timur 24 persen dan Banten 17 persen.

Mengenai peningkatan mobilitas masyarakat di beberapa titik WHO mengingatkan supaya pemerintah membuat rumusan rencana konkret dalam bersiaga dan mengurangi kemungkinan terjadinya penularan infeksi COVID-19.

“Serta menyediakan mitigasi kesehatan bila ada kenaikan kapasitas pasien di tingkat nasional dan daerah,” kata WHO.

Kata Pakar soal Mobilitas yang Meningkat

Mengenai peningkatan mobilitas, epidemiolog Masdalina Pane mengatakan hal tersebut terjadi sekitar satu bulan belakangan.

“Sebenarnya pergerakan masyarakat itu bukan satu dua hari ini saja. Jadi, kalau kita pantau mobilisasi masyarakat itu telah berjalan satu bulan. Sudah berjalan normal judi slot online seperti tanpa ada pandemi,” kata wanita yang juga Kepala Bidang Pengembangan PAEI atau Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon.

Masdalina, melanjutkan jika  pandemi COVID-19 tetap dikontrol sebenarnya tidak akan merusak kenyamanan dalam aktivitas pendidikan, kehidupan sosial dan perekonomian jika dilakukan secara tepat dan sistematis.

“Sebenarnya pengendalian wabah itu kalau dia targeted dan sistematis, sebenarnya dia tidak akan mempengaruhi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa targeted dan sistematis artinya intervensi yang dilakukan hanya pada kasus yang tepat, bukan semua orang diintervensi.

“Misalnya ada kasus konfirmasi, satu ketemu dicari kontak dekatnya kemudian yang positif diisolasi yang kontak dekat dikarantina kemudian dipantau selama 14 hari,” ungkapnya.

Jika sudah 14 hari, orang tersebut dapat kembali ke lingkaran kehidupan normal. Sedang, orang lain yang bukan kasus kontak erat, bukan konfirmasi maka tetap bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Meskipun PPKM tetap dilaksanakan, pemerintah telah mencabut beberapa pembatasan pergerakan sejak 26 Juli. Selanjutnya mobilitas masyarakat meningkat,” tulis WHO dalam catatan laporannya, yang dikutip pada Jumat (20/8/2021). Peningkatan mobilitas, kata WHO, terjadi di stasiun transit, tempat ritel, dan tempat rekreasi di provinsi di Jawa dan Bali. Terutama di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Lantas, menurut WHO, situasi kenaikan kegiatan tersebut sama seperti sebelum pandemi Covid-19. “Yang utama di stasiun transit dan area ritel dan rekreasi di semua provinsi di Jawa dan Bali. Peningkatan signifikan mobilitas masyarakat di ritel dan rekreasi diamati, khususnya di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, di mana tingkat mobilitas pra-pandemi telah tercapai,” kata WHO. Untuk itu, WHO menyarankan pemerintah supaya cepat bertindak untuk mencegah terjadinya kenaikan kasus Covid-19.

Sumber https://www.liputan6.com